Pakan Ayam Kampung Alternatif

Pakan Ayam Kampung Alternatif .Pakan ayam kampung alternatif untuk budidaya ayam non ras secara tradisional ada baiknya dipertimbangkan dari segi biaya, biaya pakan adalah biaya produksi terbesar dalam budidaya ternak, untuk itu diharapkan semua peternak mampu mencari pakan-pakan alternatif untuk produksi ternak mereka; baik ayam ras, sapi potong, sapi perah dan lainnya yang dipelihara secara tradisional. Pada kesempatan ini kita akan menuliskan sebuah pakan alternatif yang mampu meningkatkan produksi telur pada peternakan budidaya ayam kampung, pakan ini kita tuliskan berdasarkan pengalaman dan belum ada uji ilmiah yang dilakukan oleh kalangan akademisi peternakan, namun dari hasil pengamatan saya menyimpulkan bahwa pakan yang digunakan oleh peternak ini mampu menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan hasil produksi khususnya telur ayam kampung.


Pakan alternatif yang digunakan oleh peternak yang saya amati ini terdiri dari bahan pakan berikut:

  1. Talas (umbi dan daun) disini menurut si peternak yang membudidayakan ayam kampung tersebut dapat digunakan umbinya saja, atau tangkai dan daunya saja atau dikombinasikan keduanya. Yang sering beliau gunakan adalah tangkai dan daunt alas.
  2. Beras dolog (catu), agar biaya lebih murah bila di daerah anda tidak terdapat beras dolog ini beli saja beras yang paling murah atau beras aking juga boleh.
  3. Dedak, disini untuk budidaya ayam kampung ini tidak masalah dedak kualitas sedang yang digunakan. Dedak kualitas sedang adalah dedak yang tidak terlalu halus.
  4. tepung tulang atau tepung cangkang kerang (keong) ini tidak wajib, diberi jika ada saja.


Cara mengolah bahan-bahan pakan ayam kampung diatas adalah sebagai berikut: 
Cincang talas atau batang dan daunt alas kecil-kecil kurang lebih ½ Cm, tanak semua bahan selayaknya menanak nasi. Ukuran perbandingan bahan diatas adalah; untuk 2 Kg pakan gunakan 1kg umbi talas atau daun talas, ½ Kg Beras dan ½ Kg dedak. Tepung tulang hanya dibutuhkan satu sendok makan. Aduk rata semua bahan tersebut dan ditanak.

Hasil yang didapatkan dengan menggunakan pakan ayam alternatif ini ternyata sangat bagus, pertumbuhan ayam sangat baik dan jumlah telur yang dihasilkan juga selayak peternak yang memberi pakan yang diproduksi pabrik. Oleh karena itu saya berani mengatakan bahwa ini adalah salah satu pakan ternak ayam kampung yang sangat baik diaplikasikan karena mampu menekan biaya produksi sampai 50 % daripada menggunakan pakan yang dibeli dari hasil pabrik (pelet). 

Kekurangan dalam menggunakn pakan budidaya ayam kampung seperti ini adalah sulitnya mengadaptasikan ayam dengan pakan ini. Awal-awal mengguankan pakan ini biasanya ayam kampung belum mau memakan pakan ini seperti memakan pelet. Namun ini hanya terjadi beberapa hari saja. Untuk melakukan penyesuaian paksa ayam kampung tersebut untuk memakan pakan ini dengan tidak memberi pakan selain pakan yang kita buat ini. Tidak perlu takut ayam akan mati kelaparan, ketika mereka lapar maka pakan ini akan mereka makan secara lahap.

» Read More...

Manfaat Batang Pisang untuk Makanan Sambilan Ayam


Berbagai alternatif penyediaan pakan dilakukan sebagian peternak unggas untuk menyiasati fluktuasi harga pakan dan harga jual ternak kaitannya dengan FCR (Feed Convertion Ratio). Peternak yang profesional tentu saja benar-benar memperhatikan persoalan FCR ini karena di situlah letak keberhasilan usaha budidaya ternaknya. 

Pisang adalah kata yang begitu akrab di telinga kita dengan segudang manfaat. Seluruh bagian dari pisang mulai dari daun, jantung (ontong), buah, bonggol, kulit sampai dengan batang pohonnya bisa dimanfaatkan. Khusus untuk batang pisang, pemanfaatannya telah lumayan dikenal di kalangan peternak ruminansia (sapi, kambing dsb). Namun pemanfaatan untuk unggas apakah bisa?
Batang pisang ternyata kaya akan kandungan glukosa dan selulosa namun rendah kadar ligninnya. Ini menarik karena glukosa, suatu gula monosakarida, adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Sementara itu, lignin adalah suatu bentuk serat yang dalam jumlah kecil dibutuhkan ternak untuk membantu pencernaan. Kandungan lignin pada pakan ternak sangat berpengaruh pada kemudahan pakan itu untuk dicerna. Pakan yang rendah kandungan ligninnya mudah dicerna oleh binatang. Tapi, kalau pakan yang diberikan terlalu banyak kandungan ligninnya, ternak bisa ‘mencret’.

Fakta ilmiah sedemikian sudah cukup sebagai dalil atas kenyataan praktek yang penulis lakukan pada ternak unggas meskipun dulu hanya berdasar ‘katanya’. Kami memberikan cacahan batang pisang ke ternak ayam broiler saat itu (di Kalimantan Selatan) dengan alasan untuk mendinginkan badan ayam akibat suhu udara yang ekstrim panas (dekat garis katulistiwa). Batang pisang dicacah halus lalu diberikan ke ayam saat ayam berumur 23 hari, 27 hari, 30 hari, dan 33 hari di tempat pakan bagian luar saja. Sore harinya diminumi air yang dicampur VITERPAN Unggas seperti biasanya.

Hasilnya sangat bagus karena ayam tampak lebih tenang meski suhu sangat panas memanggang di siang hari. Dan, pakan lumayan hemat karena sebagian ruang di tembolok dan perut ayam terisi cacahan batang pisang yang tidak usah beli. Efek kenyang tetap tampak dan yang penting, pemenuhan unsur gizi tetap terjaga terutama kalori yang diperoleh dari kandungan glukosa dalam cacahan batang pisang tersebut. Grafik penambahan bobot bahkan maju 1 hari dari baku standar budidaya. Menarik sekali. Satu hal lagi, kematian ayam di atas umur 25 hari amatlah ditakutkan peternak karena ayam yang mati berarti membuang pakan dalam jumlah cukup besar dan itu lampu kuning buat FCR dan Index Prestasi keseluruhan. Ayam kami, memang ada yang mati juga pada fase itu (namanya ajal siapa yang bisa ngatur kalau bukan Yang Maha Kuasa), tingkat kematiannya hanya 1-2 ekor dan itu hanya persoalan kompetisi ruang dan pakan. Tentu yang besar yang menang, yang kecil dan agak lemah, ya kalah. Toh hasil akhir mortalitas hanya 3%, masih sangat bisa ditoleransi tentunya.

Sumber

» Read More...

Manfaat Daun Pepaya untuk Makanan Tambahan Ayam


Tanaman pepaya hampir semua bagiannya mulai dari akar, daun, getah sampai biji secara empiris sudah dipergunakan sebagai antelmentik. Diduga, zat aktif dalam pepaya adalah papain, karpain dan karposit. Papain adalah enzim proteolitik yang telah dikenal sebagai pelunak daging. Zat tersebut melakukan proses pemecahan jaringan ikat yang disebut proses proteolitik. Semakin banyak protein yang dipecah, daging yang dihasilkan semakin lunak. Papain sebagai antelmentik juga bekerja seperti dalam proses melunakkan daging. Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing dan cacing akan keluar dalam keadaan hidup. 

Pemeriksaan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung Haemonchus contortus secara in vivo pada ayam  terinfeksi dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian papain kasar sampai 0,6 g / kg bobot badan menyebabakan penurunan jumlah cacing dan telurnya.

Ipteknet (2007) menyatakan bahwa tanaman papaya mengandung papain yang dapat memanjangkan daya cerna pepsin sehingga pencernaan lebih sempurna. Papain mempunyai daya anti cacing pita, cacing gelang, cacing keremi dan cacing tambang.

Enzim papain merupakan enzim yang terdapat dalam getah papaya. Enzim papain bersifat proteolitik yaitu mengkatalis ikatan peptida pada protein menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana seperti dipeptida asam amino. Kualitas getah sangat menentukan aktivitas proteolitik dan kualitas tersebut tergantung pada bagian tanaman asal tersebut. Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, bagian tanaman yang mengandung getah dengan kualitas aktivitas proteolitik yang baik ada pada bagian buah, batang dan daun. Sifat enzim papain antara lain dapat bekerja optimum pada suhu antara 50 – 60 o C dan pH 5 – 7, serta memilki aktifitas proteolitik antara 70 – 1000 unit / gram. Aktivitas enzim selain dipengaruhi oleh proses pembuatannya juga dipengaruhi oleh umur dan jenis varietas pepaya yang digunakan.
Papain merupakan satu dari enzim paling kuat yang dihasilkan oleh seluruh bagian tanaman pepaya. Enzim adalah molekul kompleks yang diproduksi makhluk hidup untuk mempercepat reaksi kimia dalam sel. Pada pepaya, getah termasuk enzim proteolitik dan protein dasarnya memecah protein menjadi pepton. Kadar papain dan kimopapain dalam pepaya muda berturut-turut adalah 10 % dan 45 %. Kimopapain merupakan enzim yang paling banyak terdapat dalam getah pepaya. Daya kerjanya mirip dengan papain, tetapi mempunyai daya tahan panas yang lebih besar. Kimopapain lebih tahan terhadap keasaman tinggi, bahkan stabil dan masih aktif pd pH 2,0. Kedua enzim ini memiliki kemampuan menguraikan ikatan-ikatan dalam molekul protein, sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida. Hal tersebut jika bekerja pada cacing maka enzimnya akan menguraikan protein tubuh cacing, sehingga cacing menjadi lemas dan akan dikeluarkan dalam keadaan hidup (vermifuga).

Bouchut (1879) menyatakan bahwa karpain merupakan senyawa alkaloid bercincin laktonat dengan tujuh kelompok rantai metilen. Karpain efektif dalam menghambat kinerja beberapa mikroorganisme. Karpain mencerna mikroorganisme dan mengubahnya menjadi senyawa turunan pepton. Inang pun kekurangan makanan danmati. Ramsamawy dan Sirsi menyatakan bahwa jumlah senyawa karpain dalam getah pepaya mencapai 0,4 % serta membuktikan bahwa dosis 0,01 % karpain dalam ethanol dapat menghambat perkembangan lymphoid dan lymphosis leukimia.

Karpain yang merupakan senyawa alkaloid, bekerja efektif mencerna mikroorganisme, sehingga inang kekurangan makanan. Hal tersebut juga terjadi pada cacing nematoda Haemonchus contortus. Akibat karpain, maka protein tubuh cacing dicerna, sehingga cacing akan lemas dan akan keluar dari tubuh inang dalam keadaan hidup (bekerja sebagai vermifuga). Menurut Ipteknet (2007) pada daun, akar dan buah terdapat karpain yang efektif sebagai anti cacing.

Karposit merupakan senyawa yang terdapat dalam getah pepaya. Kandungan karposit lebih banyak terdapat pada daun pepaya. Karposit mempunyai fungsi yang hampir sama dengan papain dan karpain. Karposit merupakan senyawa yang aktif sebagai peluruh cacing nematoda Haemonchus contortus . Karposit bersama dengan papain dan karpain merusak protein tubuh cacing. Hal tersebut akan melemaskan cacing sehingga cacing keluar dalam keadaan hidup. Karposit merupakan antelmentik yang bekerja sebagai vermifuga. Ipteknet (2007) menyatakan bahwa kandungan carposide (karposit) pada daun pepaya berkhasiat sebagai obat cacing.

Kandungan pepaya papain, karpain dan karposit mempunyai fungsi sebagai peluruh cacing nematoda, khususnya Haemonchus Contortus pada ternak kambing dan domba. Papain, karpain dan karposit menguraikan dan mencerna protein tubuh cacing sehingga cacing akan lemas. Getah pepaya tersebut bekerja sebagai vermifuga.

Dosis tambahan daun papaya yang baik dan benar
Dosis tambahan daun papaya untuk Pakan Ayam yang benar dapat kita lihat pada pembahasan ini.

40 %           Katul                      400 gram
20 %           Jagung                    200 gram
30 %           Daun papaya          300 gram
10 %           Konsentrat             100 gram

NB : 1 kg pakan ayam digunakan untuk 60 ekor ayam untuk ayam pedaging.

Cara pengolahan daun papaya sebagai tambahan pakan ayam yang baik dan benar
Cara pengolahan daun papaya sebagai tambahan pakan ayam yang baik dan benar adalah sebagai berikut.

-  Cara pertama :
1.      Ambil 3 lembar daun papaya.
2.      Keringkan daun papaya tersebut sampai daun berwarna coklat.
3.      Hancurkan dengan menggunakan tangan.
4.      Campurkan dengan pakan pokok ayam kurang lebih 1 kilogram.

-  Cara Kedua:
1.      Ambil 3 lembar daun papaya
2.      Potong halus daun papaya tersebut.
3.      Rebus dengan air sampai matang.
4.      Campur dengan 1 kilogram pakan pokok ayam yang di tumbuk dengan sedikit air matang.

» Read More...

Tips Mempertahankan Kualitas Ransum



Di kalangan peternak, kualitas ransum seringkali terabaikan. Pasalnya, manajemen penerimaan, penanganan, serta penyimpanan ransum yang selama ini diterapkan oleh beberapa peternak terkesan asal-asalan. Belum lagi kondisi gudang ransum yang jarang diperhatikan, maka bisa dipastikan kandungan air dalam ransum meningkat dan jamur akan dengan mudah mengontaminasi. Oleh karena itu, untuk menghindari kerusakan ransum lebih jauh lagi, mari kita simak manajemen penanganan dan penyimpanan ransum yang benar berikut ini.

Memilih Ransum Berkualitas Diawali dengan Memilih Supplier yang Tepat

Produsen atau supplier ransum memiliki peran penting sebagai penentu awal kualitas ransum. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika supplier atau produsen ransum ini dipilih peternak dengan ketat. Pertimbangan harga perlu diperhitungkan, mengingat 70% biaya pemeliharaan ayam berasal dari ransum. Namun menjadikan pertimbangan harga ini sebagai patokan bukanlah hal yang tepat. Kualitas ransum tetap menjadi pertimbangan utama kita. Apalah artinya jika kita mendapatkan ransum dengan harga murah namun saat diberikan pada ayam, pertumbuhannya tidak optimal? Bukankah hal ini jauh lebih merugikan?
Untuk memilih jenis ransum yang akan kita gunakan, kita perlu membandingkan antara harga dengan kandungan nutrisi yang terkandung dalam ransum, terutama rasio harga per % protein kasar atau energi metabolisme-nya. Contohnya seperti terlihat pada Tabel 1, sebuah analisis sederhana yang bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk pemilihan ransum. Jika hanya berpedoman pada harga, maka tentu yang dipilih adalah Ransum A (Rp. 5.400). Namun jika dibandingkan antara rasio kandungan nutrisi dengan harga, maka seharusnya yang dipilih untuk dibeli adalah Ransum B (Rp. 5.500) karena harga per kandungan nutrisinya lebih murah (hanya Rp. 251,83).

Data kandungan nutrisi ini bisa diperoleh di leaflet ransum. Namun akan lebih update dan objektif jika kita bisa melakukan uji laboratorium, terutama untuk kadar protein kasar. Hanya saja kelemahannya, uji lab ini memerlukan waktu yang relatif lebih lama sehingga perlu pengaturan waktu secara lebih baik oleh peternak.

Prosedur Penerimaan dan Penyimpanan Ransum

Setelah diperoleh ransum berkualitas dari supplier yang dikenal baik pula kualitasnya, maka langkah selanjutnya yang harus dipersiapkan ialah menangani ransum ini dengan baik hingga kualitasnya tetap terjaga sampai ransum diberikan. Menjadi prosedur wajib, saat ransum datang ke peternakan hendaknya dilakukan pengambilan sampel untuk dilakukan pengujian kualitas (quality control), baik secara fisik maupun laboratorium. Tujuannya, agar ransum yang diterima sesuai dengan yang dipesan. Jangan lupa untuk selalu mencatat nomor batch yang tercantum pada karung ransum. Nomor batch ini bisa dijadikan dasar jika suatu saat ada komplain yang akan kita sampaikan kepada produsen atau supplier ransum tersebut. Setelah dinyatakan lulus quality control, selanjutnya ransum disimpan di gudang.
Menurut Rusman dan Siarah (2005), penyimpanan ransum juga perlu diperhatikan agar ransum tidak lembab atau rusak. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika ransum disimpan di gudang antara lain (CJ Feed Indonesia, 2008):

1) Perhatikan suhu, kelembaban, sirkulasi udara dan tampias air hujan

Kondisi suhu dan kelembaban di gudang sangat berpengaruh terhadap stabilitas kualitas ransum. Saat suhu tinggi, nutrisi dalam ransum, terutama vitamin dan protein, akan lebih cepat rusak. Dan saat suhu rendah, jamur akan tumbuh lebih cepat. Akibatnya sejumlah kandungan nutrisi ransum akan berkurang karena sebagian digunakan oleh jamur.
Jamur juga lebih cepat tumbuh pada kondisi kelembaban tinggi. Jamur-jamur ini kemudian akan menghasilkan senyawa toksin (mikotoksin) yang berpengaruh pada penurunan sistem kekebalan dan pertahanan tubuh ayam.
Selain suhu dan kelembaban, sirkulasi udara juga perlu diperhatikan agar pertukaran oksigen berjalan dengan baik. Sirkulasi udara yang kurang optimal bisa meningkatkan suhu dan kelembaban. Perhatikan juga atap, segera perbaiki jika ada atap yang bocor. Adanya tetesan air atau tampias air hujan menjadi pemicu yang sangat ampuh bagi pertumbuhan jamur.


2) Gunakan pallet sebagai alas tumpukan ransum

Pallet bisa dibuat dari plastik atau balok kayu. Ketebalan pallet ini setidaknya 10 – 15 cm. Dengan adanya pallet diharapkan ransum yang berada di bagian paling bawah tidak langsung bersentuhan dengan lantai. Hal ini untuk mengurangi resiko ransum menjadi lembab, menggumpal dan ditumbuhi jamur.
Pallet hendaknya bisa secara rutin dibersihkan, terutama saat tumpukan ransum habis dan akan digunakan untuk menumpuk ransum yang datang berikutnya. Hati-hati jika menggunakan pallet dari kayu, seringkali rongga atau pori-pori kayu dijadikan sebagai tempat persembunyian kutu. Pengecatan bisa dilakukan untuk menutup pori-pori tersebut. Bahkan jika perlu, lakukan penyemprotan insektisida pada pallet kayu tersebut sebelum digunakan.




3) Batas waktu penyimpanan ransum
Penyimpanan ransum yang terlalu lama akan menyebabkan turunnya kualitas ransum. Meskipun lamanya penyimpanan ini dipengaruhi pula oleh banyak faktor seperti kondisi gudang ransum, bentuk ransum, kontaminasi serangga, dll. Salah satu rekomendasi pabrik pakan pun menyatakan ransum yang diproduksi oleh pabrik pakan hendaknya digunakan maksimal 21 – 30 hari setelah tanggal produksi.
Jika dilihat dari bentuknya, maka ransum bentuk mesh akan lebih mudah rusak dibandingkan ransum bentuk crumble maupun pellet. Ransum bentuk mesh diketahui maksimal disimpan dalam gudang selama 2 minggu, sedangkan ransum crumble dan pellet disimpan maksimal selama 3 – 4 minggu.

4) Terapkan sistem FIFO dan FEFO
First in first out merupakan kepanjangan dari FIFO yang bisa diartikan ransum yang pertama diterima adalah ransum yang lebih dahulu harus digunakan. Sedangkan FEFO atau first expired first out bermakna ransum dengan masa expired (masa kadaluarsa) terdekat lah yang harus terlebih dahulu digunakan. Dengan sistem ini maka ransum dapat terjaga kualitasnya dan meminimalkan ransum di-reject (dibuang). Penerapan sistem FIFO maupun FEFO membutuhkan penataan tumpukan ransum yang jelas dan teridentifikasi. Pemasangan label atau papan petunjuk akan mempermudah aplikasi ini.

5) Pembersihan dan desinfeksi
Setiap hari hendaknya gudang penyimpanan ransum dibersihkan, terutama pada jalur utama keluar masuk gudang, bagian pojok-pojok gudang atau di bawah pallet. Adanya sisa ransum yang tidak dibersihkan bisa memicu tumbuhnya jamur dan berkembangnya insekta (serangga) maupun hama seperti tikus.
Jika perlu lakukan fumigasi menggunakan bahan sulfuryl flouride untuk memberantas insekta. Sulfuryl flouride diketahui tidak meninggalkan residu pada ransum yang disimpan. Penyemprotan insektisida juga bisa dilakukan untuk membasmi berbagai hama tersebut pada saat pembersihan dan desinfeksi total gudang ransum. Namun penggunaan insektisida ini perlu hati-hati jangan sampai mengenai ransum sehingga bersifat racun pada ayam. Minimal 1 bulan sekali atau saat masa istirahat kandang dilakukan pembersihan dan desinfeksi total pada gudang.

Persoalan terkait manajemen penanganan dan penyimpanan ransum ayam memang bukan sesuatu hal yang sepele. Sedikit saja ransum tercemar, maka peternak akan merugi karena ransum memegang biaya produksi tertinggi pada usaha peternakan. Maka, kunci pencegahan utama untuk menghindari kejadian tersebut terletak pada penerapan manajemen penyimpanan ransum yang baik. Tips terakhir agar kualitas nutrisi ransum selalu terpantau pada setiap rantai penanganannya, hendaknya peternak melakukan kontrol kualitas ransum melalui uji fisik maupun kimia (di laboratorium) secara rutin minimal 1 bulan sekali atau saat dilakukan pergantian supplier serta formulasi ransum. Selamat mencoba. Sukses selalu.


(http://info.medion.co.id)

» Read More...

Tips Pakan untuk Ayam Bangkok


Pakan/Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kondisi ayam bangkok.Pakan yang diberikan harus mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh ayam.  Zat-zat yang dibutuhkan tersebut sebagi berikut :

Protein.
Berfungsi sebagai zat pembangun tubuh.Protein berguna untuk meningkatkan jumlah otot serta daging,sehingga sangat dibutuhkan oleh anak ayam yang sedang tumbuh sampai berumur 6 bulan dan yang sedang dipersiapkan untuk diadu.Untuk menambahkan protein,para pemilik ayam sabung sering menambahkan cincangan daging kambing dalam pakan untuk ayamnya.

Lemak.
Zat ini juga dibutuhkan ayam yang sedang tumbuh.  Bagi ayam yang akan disabung,lemak tidak terlalu perlu. Ayam sabung justru harus langsing,singset,dan padat tubuhnya. Jika terlalu banyak lemak, ayam akan kelebihan berat badan sehingga mudah lelah atau tidak mampu untuk memukul.

Karbohidrat.
Zat ini sangat dibutuhkan oleh ayam sabung untuk menjaga stamina.Stamina ayam memang harus diperhatikan karena harus bertarung 5-6 ronde,setiap ronde lamanya 15 menit.

Vitamin dan mineral. 
Dua zat ini bermanfaat untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta kelincahan ayam sewaktu bertarung,meskipun jumlah yang dibutuhkan tidak terlalu banyak,hanya 1-2% dari total ransum.Vitamin dan mineral juga berguna sebagai katalisator dalam proses metabolisme.Pemberian vitamin B kompleks sangat dibutuhkan untuk meningkatkan aktivitas ayam sabung.Kedua unsur tersebut sangat dibutuhkan untuk metabolisme dan pertumbuhan fisik ayam,seperti pertumbuhan tulang, mencegah kelumpuhan,dan menghindarkan kecacatan pada kaki.

Air. 
Selain pakan,ayam juga membutuhkan air.Air ini antara lain digunakan untuk proses metabolisme.Air juga diperlukan sebagai pelarut.Hampir 60% tubuh ayam terdiri atas air yang juga berguna dalam proses pencernaan,mengatur suhu badan, dan menyeimbangkan atau mengatur berbagai zat di dalam tubuh ayam.

Hijauan.
Hijauan merupakan pakan tambahan bagi ayam bangkok. Biasanya hijauan diberikan sejak anak ayam berumur dua bulan.Pakan hijauan berupa kecambah kacang hijau(toge),kangkung,daun pisang,dan hijauan lainnya yang mengandung air dan tidak memberikan efek racun bagi ayam.

Grit.
Grit adalah bahan yang digunakan untuk membantu pencernaan ayam di tembolok,yaitu berupa kulit kerang atau cangkang bekicot.Grit bisa diberikan kepada ayam muda di dalam kandang umbaran.Grit tidak boleh diberikan kepada anak ayam di bawah umur tiga bulan karena akan mengganggu atau melukai pencernaannya.

» Read More...

Tips Pakan Ayam Kampung


Bahan pelengkap untuk pakan ayam kampung - Pakan ternak untuk ayam kampung menjadi salah satu penentu keberhasilan suatu usaha ternak ayam kampung. Karena pakan mempunyai peranan yang sangat penting untuk menghasilkan ayam yang berkualitas, jika pakan tidak maksimal dalam pemberian maupun kualitas, maka hasil ternak juga kurang optimal. Pakan yang baik untuk ternak ayam kampung belum tentu yang mahal harganya. Berikut ini kita sampaikan beberapa tips memberikan ramuan pakan untuk ayam kampung.

Tips agar ayam kampung sehat dan kuat berikut tipsnya :

  1. Bahan utama dari pakan berkualitas untuk ayam Kampung adalah katul gabah, kalo di Jogja juga disebut dedak. Katul ini mengandung karbohidrat yang cukup tinggi. Bahan ini berfungsi sebagai sumber energi. Pilih katul yang paling halus. Ini dihasilkan dari 'kulit ari' gabah yang digiling menjadi beras. Jangan pilih katul atau dedak yang kasar, sebab kemungkinan besar ayam tidak mau makan.
  2. Bahan pelengkap pertama adalah katul jagung yang super lembut. Ini juga mengandung karbohidrat, namun fungsi disini adalah sebagai bahan pelembut pakan.
  3. Bahan pelengkap kedua adalah BR kualitas 1. Bahan ini sudah mengandung banyak mineral dan protein yang cukup dibutuhkan ayam kampung.
  4. Bahan pelengkap ketiga adalah konsentrat ayam petelur. Mengapa? karena konsentrat ini mengandung protein yang sangat tinggi. Berfungsi sebagai sumber protein untuk ayam kampung.
  5. Terakhir, adalah nasi. Nasi digunakan untuk mengirit pakan dan membuat ayam lebih cepat kenyang.

Perbandingan 1 kg katul gabah : 0,25 kg katul jagung : 0,25 kg BR : 0,25 kg konsentrat.
Demikian penuturan dari kami semoga bermanfaat, salam sukses.

Sumber

» Read More...

Daftar Bacaan

Popular Posts